Pages

Senin, 27 Oktober 2014

CERPEN-ONE DAY

ONE DAY

That day, In a school in my city, Makassar, I’d just finished my teaching in a class, went out, then the following teacher (my college friend) came in that class and continued teaching the students. This was what we had to do in two months to fulfill one of the requirements of our study in Campus, especially for those who are in Education Department – Doing A Teaching Practice.
When I was sitting some meters away from the class, starring at the Teacher teaching inside, I opened my book. I read what haven’t been read yet, imagining…
Suddenly a voice flew toward me, seemed to be whispering…
“Big brother…”
I turned my face, “Oh, hello… come..” I answered.
A girl came to me then sat beside me.
“Anyways, why don’t you come in to the class?” I was trying to make a talk.
“I’m kinda tired, big brother.” She answered.
“Oh, I see.”
A minute passed by, Silent… (I was in silent, and she was too… I didn’t know what kind of idea I was going to talk about… sort of speechless).
A minutes later, when I was trying to talk about something…
“Big brother, how long have you been in college?” she asked.
“Umm… about 3 years… 1 year left, I wish.”
“Oh… I see. And, do you wanna be a teacher after fininshing your study?”
“Mmm… I, I’m actually not giving much hope in my goal of being a teacher, I actually want to be more than that, you know… a lecture, could be, and find some additional jobs. Tacher is not a promising job, I mean in terms of earning money, salary. It’s still not equal of what the teachers do in class and their salary. Though they have that so-called “teacher certification”, I mean, to be a teacher, we still need more… We may need some additional jobs to raise fund…”
That time, I spoke like a sophisticated one, but above all, the way I think, was like capitalistic one.
“Big brother, do you think that by mastering English, being English teacher, or knowing English can provide us much space in looking for job?” she kept asking.
“Of course, little sister… ‘cause you know, English is needed everywhere. Beside teaching English in school, you can teach English in a course, private learning, etc. You can also use your English in serving tourists or being interpreter… and many more”.
“So, big brother, we will hardly find a job when we have no ability of English, right?”
“Could be, could be not…”
Then I went on…
“Little sister, actually, above all… if you have an interest of something, a hobby, just keep on developing it, give much attention to it. It will be your power one day, your future, to live your life…”
I went on…
“But, you know, in Indonesia, it’s still hard to develop such a thing. We have less place or space to develop or to improve our creativity, we have less friends or people to share our creativity or to compete with. It’s really different with what happened in the western countries.”
“That’s right big brother… By the way, I like drawing, big brother. I have many drawings of my own. I’m also good at dancing…”
(of course you are, ‘cause I saw you dancing in the class just now… ) I talked in mind.
She went on…
“Yes, so poor in Indonesia. Tira aggres. (She changed the “pronoun” of herself using her name, a sort of Jakarta dialect)
This girl was not originally from South Sulawesi. I could see it through the way she talked. And yepp, I knew it by our following talks ‘cause she told me about her experience, her story. She moved to Makassar because her father had a job here (kind of job mutation, perhaps).
Again, she went on…
“You know, big brother… In Indonesia, It’s so annoying, you know people here sometimes do not appreciate something we do. For example, you know sometimes when I’m dancing, people think that I’m just kind of crazy person, doing unimportant thing…”
“Yah, that’s it. That’s why I wanna go abroad, study there, and enjoy life there.”
“Hmm… by the way, don’t you wanna come in to your class. I think we’ve made a long talk here. I’m just afraid if… mmm… actually we shouldn’t do a talk like this ‘cause you’re supposed to be in class now but, the fact, you’re not in class now.” I went on, trying to give a little advice.
“It’s OK, big brother, it’s OK… Tira’s just kinda tired studying in class.”
“I see, but… mm… Oh ya, you said before that you like drawing. Anyways, you know, I also like drawing, painting, I used to have many drawings… and the way I draw is by imitating a picture… not so bad. I began to draw something when I was five.”
“That must be nice… Hmm, big brother do you wanna go abroad? By the way, Kira has relatives in Singapore, and Kira knows that it’s good to study there. When Kira was in Elementary School, Kira almost went there with Kira’s family and lived there, but unfortunately the plan was cancelled.” She told her experience.
“Nice…”
“Little Sister…!” I suddenly disrupted the talk.
“Let’s get in to the class… The class is almost over.”
We both came in to the class… the class would be over in five minutes. She then sat at her seat, took something from her bag…
“Big brother, this is my drawing, look..” She showed me a piece of paper.
“Wow… beautiful…” I said, looking at the Manga (anime picture from Japan) at the paper.
“Do you like drawing Manga?” I asked
“Yes, I do, big brother.”
“Just keep developing your drawing, little sister. If you have time, you can join groups of Manga lovers to share your drawings or something related to Manga. In facebook maybe you can find such those group, Manga Lovers Makassar maybe, etc. You can join them…”
The bell then rang… class was over.

CERPEN-Love Isn’t False


Love Isn’t False

Cuaca hari ini benar-benar nggak kompak. Matahari tidak lagi memancarkan sinarnya yang dahsyat. Sesekali terdengar suara gemuruh kilat menyambar. Sekarang sudah pukul 04.00. Bel sekolah SMA Xaverius sudah berbunyi. Murid-murid terlihat sedang menunggu jemputan masing-masing. Di sudut lain seorang cewek dari tadi berdiri di depan kelasnya bukan lantaran menunggu jemputan seperti teman-temannya, tapi menunggu berhentinya hujan.
Ia menghela napas panjang dan bergumam “Kan lupa bawa payung.” Setelah satu jam menunggu hujan belum juga bisa diajak kompromi. Dan sekarang sekolah itu benar-benar sepi.
Terdengar suara langkah berat seseorang yang sedang mendekat ke arah cewek itu. Pikirannya mulai melayang ke hal-hal berbau horor. Namun berkali-kali ia menyakinkan dirinya kalau itu hanya langkah satpam sekolah. Langkah itu semakin mendekat. Seorang cowok sekarang berdiri di depannya. Cewek itu kaget setengah mati.
Mata cowok itu menatapnya lurus “Mau bareng?” Kata cowok itu sambil memberikan payung yang ada di genggamannya.
Cewek itu masih terdiam sambil menatap cowok itu bingung. Namun akhirnya ia mengangguk kecil. Sejujurnya ia tidak mengenal cowok itu. Tapi ia harus pulang sekarang daripada di sekolah itu sendirian. Lagipula setelah ia perhatikan wajah cowok itu lekat-lekat, tidak ada garis yang memperlihatkan kalau cowok itu adalah orang jahat atau pembunuh. Binar matanya menunjukan kalau ia benar-benar tulus.
Cowok itu kemudian berjalan di depan cewek itu. Cewek itu buru-buru menyamakan langkahnya dan memayungi cowok di sebelahnya. Dengan refleks tangan cowok itu bergerak ikut memegang gagang payung.. Tangan mereka pun bersentuhan dan pada saat yang sama mata mereka saling bertemu.
Hening…
Tidak ada yang berkata-kata.
Mereka merasakan sesuatu yang mendesir menyentuh hati keduanya.
“Sini biar gue aja yang megang payungnya.” Ucap cowok itu memecah keheningan di antaranya. Mereka kemudian jalan berdua dengan satu payung di tengah derasnya titik hujan.
Perjalanan itu hanya berisi kesunyiaan, namun sebenarnya terlalu banyak suara gemuruh di hati merka.
Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka. Rasanya memang sangat sulit merangkai kata-kata yang bergemuruh di hati.
Agnes hanya mampu memperhatikan cowok itu dalam diamnya. Kedua matanya kini fokus ke cowok itu sambil sesekali memperhatikan jalan. Wajahnya yang oval berpadu dengan kulitnya yang putih membuat cowok itu tidak bisa dibilang standar. Alisnya hitam sewarna dengan rambutnya yang tertata rapi. Kedua matanya sipit berbalut dengan kacamata. Semua menampakan aura dingin dan kuat.
Astaga
Semakin menatapnya, semakin bergetar hatinya. Saat ini perasaannya benar-benar tidak keruan.
Mereka berhenti di persimpangan jalan. Firasat cewek itu mengatakan kalau cowok itu mau mengambil arah yang berbeda.
“Kita beda arah. Lo pake aja payungnya.” Kata cowok itu kemudian berlari ke arah kanan membiarkan derasnya air hujan mengguyur tubuhnya.
Tepat beberapa detik kemudian bayangan cowok itu benar-benar menghilang. Ini adalah awal pertemuan manisnya dengan cowok itu. Ya cowok yang membuat gejolak hatinya beradu hebat. Mungkinkah ini cinta pandangan pertama?
Agnes sudah rapi mengenakan seragam putih abu-abunya. Di punggungnya terselampir tas sekolahnya yang telah kenyang menelan buku. Plus telapak kakinya kini sudah dibalut dengan jaos kaki dan sepatu kets kesayangannya.
Ia berhenti di depan gerbang sekolah. Matanya dengan lincah mencari sosok cowok yang sejak kemarin memenuhi lamunannya.
Bodoh.
Runtuknya berkali-kali pada dirinya. Ia benar-benar lupa menanyakan siapa nama cowok itu. Kelas berapa cowok itu dan sekarang semua itu membuatnya bingung sendiri.
“Lo yakin dia anak sekolah sini?” Tanya seorang cewek yang saat ini berdiri di sampingnya.
“Yakin lah. Orang gue kemarin ketemu dai disini.”
“Buktinya dari tadi kita gak ketemu-ketemu sama dia. Kita udah nunggu disni hampir satu jam. Sekarang sudah mau bel. Lo masih mau nunggu disini? Ini hari pertama kita di kelas 11. Lo mau dihukum gara-gara dikira terlambat?”
“Ya udah deh kita masuk.”

“Nes, jadi gimana?” Tanya lia melihat temannya yang dari tadi senyum-senyum sendiri. Namun Agnes masih tak kunjung menjawab.
“Nes, gimana?” ulangnya lagi sedikit keras. Satu hentakan kaki lia membuat agnes pun terkejut.
“Ya gitulah.” kata-kata itulah yang menggantung di mulutnya. Namun dari dalam hatinya terlalu banyak kata indah yang ada disana jauh di dalamnya.
“Lo percaya cinta pandangan pertama?” Tanya agnes tiba-tiba. Entah hal apa yang membuat otaknya mendorong mulutnya untuk berkata hal seperti itu kepada sahabat yang telah lama ia kenal.
“Gak. Buat gue cinta itu muncul karena kebersamaan.”
“Tapi lo percaya takdir kan? Bahwa suatu saat di waktu yang tak terduga lo akan menemukan seseorang untuk mengisi hati lo.”
Lia punya banyak kata gak dan alasan yang relevan untuk mendebat semua hipotesis agnes, tapi mungkin dia hanya bisa diam melihat temannya yang tiba-tiba aneh.
“lo lagi jatuh cinta ya? jangan bilang sama orang gak jelas yang minjemin lo payung itu?”
“Mungkin. Klise emang, tapi… gue sendiri masih belum ngerti.”
“Maksud lo?” Tanya lia yang sama sekali gak ngerti dengan ucapan agnes barusan.
“Eh, gimana kelas baru lo? orangnya asyik-asik? Gue tadi sempet liat lo ngobrol berdua sama cewek temen baru lo. Siapa namanya?” Tanyaku bermaksud mengalihkan pertanyaan sekaligus jawaban yang aku sendiri juga gak mengerti.
“Kumat deh. kalau udah gini bisanya nyari topik lain terus buat orang penasaran. Oh cewek tadi. Namanya Nayla. ya baik sih orangnya supel gak sombong. kapan-kapan deh gue kenalin ke lo.”

Nayla
Nama itu dan orang itu membuatku penasaran. Dan janji Lia membawaku mengenalnya telah ia penuhi. Semenjak hari itu kita bertiga bersahabat. Sangat dekat. Senja sangat istimewa bagi kami bertiga. Persahabatan dan tawa kami selalu bisa mengubah warna senja kami menjadi cerah. Namun semuanya tak lagi sama. Setelah satu cinta masuk ke dalam dua hati.

CERPEN-I’m Perfect But Not Anymore


I’m Perfect But Not Anymore

Keesokan harinya. Hari ini aku berangkat sekolah on time. Jam 06.45 udah nyampai kelas. Sambil menenteng tas kulit selempang yang mirip punyaku, aku menuju kelas XII IPA 7 yang letaknya lumayan jauh, di gedung sebelah.
Setibanya di depan kelas. Aku intip kelas dan ada dia, Agista. “Haduh, gue bilang gimana ini? Minta maaf apa ya?” pikirku
Ternyata banyak juga yang sudah berangkat. Aku kenal dengan mereka, tapi kenapa satu cewek ini gak tau. Aku memanggil Keni untuk memanggilkan Agista, karena aku malu memanggil dia secara langsung. Sebentar kemudian seorang cewek tingginya 160, agak kurus, chinesse, dia menghampiriku. Matanya yang biru bertatapan denganku. “maaf ya, loe siapa?” tannyanya berwajah innocent. “ha? di sini siapa sih yang gak kenal gue?” pikirku “Gue.. gue Riyo. Loe gak tau kalo gue Riyo?” tanyaku sambil mencoba tersenyum menutupi keherananku. “Oh, loe Riyo, ada urusan apa loe kemari?” jawabnya agak kurang nyaman melihat tatapan tidak suka dari teman-teman cewek di dalam kelas. “Gini, apa loe Agista?” “iya, gue Agista.” “emm, sebelumnya gue minta maaf sama loe soalnya kemarin gue salah bawa tas. Tas loe ketuker sama punya gue. Ini tas loe.” kataku agak pelan sambil menyodorkan tasnya. “Ha? Ternyata gak hilang. Aku kira hilang.” dia menyambut dengan gembira. “sini tasku.” dia mengambil tasnya dan dia berkata, “tunggu sebentar ya. Kemarin gue juga sempat terkejut ada tas yang sama kaya’ punya gue, ternyata punya loe. Sebentar gue ambilin.” sebentar kemudian dia membawa dan memberikan tasku. Kali ini wajahnya tidak curiga. Wajahnya berubah ceria. “Makasih Agista.” ucapku sambil tersenyum. dia berbalik selangkah meninggalkanku. Entah kenapa hatiku tidak rela kalau ini akhir pertemuanku. Lalu “Sebentar Agista.” Dia menengok ke arahku diiringi rambutnya yang hitam panjang terurai terbang tertiup angin. Hatiku berkata wow. “hmm, ya, ada apa?” “Boleh minta nomor hpmu?” dalam benakku bertanya kenapa aku berani berkata begitu. “Buat apa?” tanyanya bingung “Hmm.. buat tanya dikit. Soalnya kemarin gue gak bisa ngerjain ulangan mandarin. Kali aja gue bisa belajar sama loe.” “boleh. Ini.” “Ok. Udah gue save. Thanks ya.”
Semenjak pertemuan itu aku ngerasa ada yang aneh dalam diriku. Aku selalu terbayang wajah Agista. Keceriaannya. Saat ku tutup mata, aku jadi ingat mimpi waktu itu. Dia yang ada di mimpi mirip Agista. Terlanjur penasaran membuatku ingin tahu lebih dalam tentang dirinya. Aku mulai sms dia, aku juga meng-add fbnya. Sesudah diconfirm, aku lihat status hubunganya. Betapa senang hatiku. Dia belum ada yang punya alias single.
Selang waktu berlalu, aku mulai sms’an, telfon-telfonan, dan aku mulai yakin dia merespon aku. Kadang aku menghampirinya di depan kelas. Kami mengobrol panjang lebar. Lalu aku beranikan membawanya ke rumahku. Dan dia sangat ramah pada seisi rumah. Bahkan dia dekat dengan nyokap.
Malam ini aku ingin memberi kejutan padanya. Aku bersiap diri berdandan. Kupakai baju kemeja warna putih dengan jas hitam, kupadukan dengan jeans panjangku. Rambutku spike. Kali ini aku gak bawa mobilku yang fortuner, tapi aku memilih memakai mobil jazz putih yang gak pernah aku pakai. Ku tahu Agista suka warna putih. Hari ini pesta ulang tahunnya yang ke 18. Ku sudah menyiapkan sebuah kado yang memang sederhana seperti dirinya. Sepaket mawar putih untuknya. Selama aku kenal dia dan jalan bareng dia, aku tahu dia bukan cewek matre. Dia gak pernah minta macam-macam. Bahkan dia selalu pengen bayar apapun sendiri. “Riyo.” panggil nyokap dari ruang tamu. “iya Ma.” “Mau ke rumah Agista ya. Ini mama udah bungkus kado buat dia. Tolong sampaikan salam ke dia dan maaf mama gak bisa datang ke ulang tahunnya. Mama ada acara bakti sosial di Nusa Tenggara Timur. Malam ini mama berangkat.” “iya ma. Tapi ini apa?” “itu kalung emas yang mama beli kemarin waktu berlibur ke India. Kalung itu mama kira pas sama mama, ternyata gak pas.” “apa gak terlalu berlebihan ma?” tanyaku “gak Yo, daripada gak dipakai. Sana cepat berangkat.”
Di rumah Agista. Aku tidak menyangka rumahnya begitu besar. Mungkin lebih besar dari rumahku. Dan baru kutahu dia anak seorang dokter bedah ternama di Jakarta. Kumasuki ruangan yang didekor penuh warna putih. Rumahnya besar, namun Agista selalu tampak sederhana. Dia memakai sepeda motor matic ke sekolah, padahal di garasi rumahnya terlihat mobil jaguar terbaru.
Acara semakin malam, akhirnya sampai pada upacara potong kue. Tanpa terduga, Agista memberikan potongan kue pertamanya kepadaku. Saat itu juga aku memberikan rangkaian bunga mawar putih kepadanya sekaligus kado dari nyokap. Dia buka kado itu. Aku membungkuk ke arahnya dan mengalungkan kalung emas bertahtakan berlian itu. “makasih Riyo.” Aku mengikrarkan ingin memiliki dirinya di depan semua orang yang hadir di sana. Dan Agista pun menerima. Kami pun jadian. Cebong, Jeng-jeng, dan plethok pun memberi tepuk tangan paling keras di antara mereka. “Hebat loe bro.” sahut Plethok. Pada penutupan acara, Agista menyanyikan lagu Shania Twain berjudul From This Moment.. Suaranya lembut menggema ke seisi ruang. Tak kusangka suaranya begitu indah. Aku menjadi tamu istimewa di sini.
Kami jalani semuanya bersama. Berjalan berdua. Belajar bersama. Dia juga menjadi penyemangatku saat bermain sepak bola. Hobi baru kami pun dimulai. Aku menyewa fotografer untuk mengabadikan moment bersama. Kami memakai pakaian senada, dan banyak dari fotoku ku upload ke fb. Terakhir kali aku log in ke fb, notificationnya “1099 people like this photo.” Mimpi buruk entah apa. Akhirnya UAN pun tiba. Aku takut berpisah dengan Agista.
26 Mei Hari kelulusan tiba. Aku, Cebong, Jeng-jeng, plethok bersama semua teman yang lain berkumpul di lapangan depan untuk menerima sebuah pengakuan yang akan mengubah hidup kami. Kemudian, Pak Nanang, kepala sekolahku mengukuhkan “LULUS 100 Persen” kami semua bersorak. Aku dan teman-teman bersorak puas. Kami saling menandatangani baju dan mewarnai baju dengan pilok. What a wonderful day!! i’m free like a bird.. huahhh. Jadi ingat masa kecilku sewaktu mengikuti diwalli di India bersama keluarga bokap di sana.
Kemudian.. kebahagiaan itu hanya sesaat. Saat kulihat Agista mulai menitikan air mata sedih. Aku menghampiri dia dan membawanya ke kantin sekolah. “Loe kenapa Agis? Kok nangis sih.” tanyaku sambil mengusap air matanya dengan tissue. “Ri, gue sebenernya pengen ngomong ini dari dulu.” dia mencoba berbicara lagi, “Sebenernya gue mau nerusin di Australia. Di sana gue disuruh jadi penerus bokap, jadi dokter bedah. sempat kaget dengan keputusannya. Petir serasa menyambar kepalaku. Aku kaget setengah mati. Apa aku bermimpi? Namun kucoba menenangkan diri. “Iya gak papa Agis. Mau kuliah dimanapun, asal Agis berniat menuntut ilmu, pasti cita-cita Agis bisa tercapai. Gak usah nangis ya.” “Tapi gue gak mau pisah sama loe.” air matanya mulai menetes lagi. “Walaupun kita gak bareng, tapi hati kita tetap dekat. Jangan lupain gue ya. Kita tetap jaga segalanya seperti sekarang saat kita masih bareng” aku mengelap pipinya yang basah dengan tanganku dan membelai rambutnya perlahan.
Aku memutuskan kuliah di Universitas Indonesia. Karena ayahku adalah dosen Teknik di sana. Aku meneruskan S1 di sini, lalu rencananya melanjutkan S2 di India. Karena mungkin keluargaku akan kembali tinggal di tanah kelahiran ayahku. Sempat terbesit keinginan membawa Agista. Namun gak mungkin hal ini terjadi. Keadaannya sulit. Kami memutuskan tetap berpacaran walaupun long distance.
Aku diterima di UI, aku mengambil teknik kimia. Di Asrama UI. Aku mulai kesepian tanpa dia, Agista. Kami masih sms’n, telepon telponan, fesbukan, twitteran tapi tetap saja hadirnya tak seperti dahulu.
2 bulan berlalu, aku mulai lost contact dengannya. Aku mulai putus asa. Kemudian keesokan harinya di kelas, seusai kuliah, seseorang menghampiriku. “hay, benar ini Riyo?” tanya seorang cewek yang lumayan tinggi dan cantik, seperti pramugari. Dia duduk di sampingku. “iya benar. Siapa ya?” tanyaku. “Gue Lizi. Gue udah semester 5 di sini. Loe anak baru ya?” “Iya.” ternyata dia senior.
Lama kelamaan, Lizi sering smsan denganku. Dia ramah, baik dan supel. Dia berkata kalau dia mengagumiku. Untuk menghilangkan kesepian ini, aku mencoba mengisi hariku dengan cewek lain. Tapi hatiku, tetap satu, Agista di seberang sana.
Aku putuskan mengutarakan cinta padanya. Aku menjelaskan kalau aku long distance sama pacarku, dan apakah Lizi mau menerimaku? Dan ternyata dia menerimaku. Seminggu kemudian sms yang aku nantikan datang. Sms dari Agista. Dia memberi kabar besok Senin akan kembali ke Jakarta selama 2 minggu karena ada libur panjang di Australia. Aku sangat senang mendengar kabarnya. Kuputuskan untuk menemuinya di Restoran Cina milik tanteku, Tante Reni. “Rabu jam 7 malam di Restoran Cina Ming Zhu. Datang on time ya Agista.” smsku melayang ke hpnya. “OK. Pasti aku datang.” balasnya. Aku berdebar-debar menantikan besok Rabu.
Rabu sore. Aku membelikan sebuah kado boneka panda untuknya. Boneka ini lucu dan gendut. Pasti Agista suka. Rabu jam 7.34 aku baru tiba di Restoran karena mobilku mogok di jalan, membuatku berjalan cukup jauh ke sini. Kutenteng boneka panda itu dan kulihat Agista duduk di samping jendela melambaikan tangannya. Aku berjalan cepat menuju ke tempat duduknya. Tapi tiba-tiba dadaku sesak, kakiku seakan lumpuh, berat untuk melangkah. Ku lihat Lizi duduk di depan Agista. Ingin kuputar arah, tapi sudah tidak bisa. Kemudian aku duduk di antara mereka. “Ternyata loe masih sama ya Ri.” ucap Agista. “Hmm, iya.. masih ganteng kan?” jawabku penuh ragu. Aku mulai bisa membaca situasi ini. Mencekam. “Iya sih.” jawab Agista. Kulirik Lizi di sampingku. Dia sibuk sms ria tidak mengeluarkan sepatah kata pun. “Agis gimana kabar?” tanyaku berusaha tenang. “Baik. Tapi gak baik lagi setelah tahu kenyataannya.” jawabnya “Kenyataan apa?” sepertinya akan ada hal buruk terjadi padaku. “Tidak usah aku jelaskan panjang lebar. Aku kira kamu bakal tepati janji kamu buat setia. Tapi ternyata.. Kamu bohongi aku. Kukira kamu gak akan tergoda sama Lizi. Dugaanku salah. Lizi tuh sahabat gue dari kecil yang gue suruh pura-pura suka sama kamu. Gue kecewa sama loe Ri.” ucapnya penuh nada kecewa, matanya kosong tidak ada sorot mata ceria seperti biasanya, “Mulai saat ini, jangan pernah hubungi aku lagi. Loe Gue End sampai di sini.” “Yo, loe tau kan sekarang yang loe dapetin? Jadi cowok play boy tuh resiko. Kita juga putus” tambah Lizi. Agista dan Lizi meninggalkanku. Mereka meninggalkanku sendiri. Aku sakit. Ini memang salahku.
Aku segera pergi ke toilet dan aku hanya bisa menangis. Aku memang cowok rapuh. Aku mengingat setiap detik yang kulalui bersama Agista. Ku sadari, aku telah menyakitinya, menyia-nyiakan hadirnya. Kini ku tahu rasa ini. Forgive me, Agista. Mungkin terlambat, namun aku hanya bisa berkata dalam hati, “Agista gue sayang sama loe. Gue sadar loe yang terbaik yang pernah gue miliki. Memang salah gue nyakitin loe. Please Forgive me.” Setelah peristiwa itu, hatiku remuk. Aku tidak tahu bagaimana lagi yang harus kulakukan. Aku putuskan mencari wanita sebanyak-banyaknya. Aku berharap akan menemukan seseorang seperti Agista. Ku tak tahu kapan pencarianku berakhir.

CERPEN-Who Comes and Never Goes

Who Comes and Never Goes

This is the same night I have ever passed before. I’m lonely, without a friend or a boyfriend. I just stay at home. Play with my notebook, hand phone or radio. Nothing else, and nothing special. Actually, I just need a friend. Not for doing many thing, but just for accompanying me. Just it. “Huh, it sounds grieving!” I thought.
I start opening my notebook, turn it on. Waiting for a minute.
Just a moment, my notebook has been active. I turn on the winamp, use the headset, and enjoy some songs of Western. I choose Broken, the song of Amy Lee feat Seeter. It reminds me of two special persons in my life. Hufff. Broken… I want to yell that I’m broken…!!!
Then I check my e-mail. Nothing. Something that I’m waiting for there is no. I check my facebook. Still same. I feel disappointed. “Where’s my best friend?!!” I want to cry.
Suddenly, my phone that I put beside my notebook is ringing. There is a SMS. I read.
“Good evening… How’s everything Ay?”
That’s the message. I frown. Then I reply.
“Good evening… I’m fine. (^_^) I’m sorry; may I know who it is?”
“It’s Reza. Reza Anggana Satria.”
My heart suddenly gets pain after reading that message. I read again. I spell letter by letter. REZA. My heart increase pain. Then my phone is ringing again.
“Ay, do you still remember me well? I just want to know your condition now.”
There is an old pain that I feel again. I don’t want remember it again. But, I can’t flee. I must face the reality now. Then I reply his message.
“yes, of course. I have never tried to forget all of people that have ever existed in my life. And my life now is very well.”
“I’m glad to hear that. I hope we are still friend like long time ago.”
“I hope so. Za, I want to know Kiran’s condition. She has never replied all of my messages nowadays. I’m worried about her condition. Please tell her that I’m still waiting for her messages.”
I wait for Reza’s message. But he doesn’t reply my message again. Something happens. I don’t know.
9.00 p.m.
I turn off my notebook. I prepare for sleeping. Then I fall down my body in bed. I remember of Reza. I remember of Kiran. They are two meaningful persons in my life. And I feel that I’m losing them now.
I close my eyes and try to sleep. But their shadow is so strong in my marrow. I can’t stop not shedding tears. My heart is pain. Memories with them were so nice. Even those memories bring me meet them in the dream of my sleep. It’s felt so real.

“It will be a nice day.” I thought.
As usual, I experience my activity, go to campus. I take on public transportation, my motorcycle is repaired. I sit in front of two girls of Senior High School’s student. They are friend’s couple. I look at them, and pay attention for them two. They chat each other and look cheerful. They really remind me of Kiran. I look at them same as with I look myself and Kiran long time ago, where we are always together. Those days have gone. And now, I’m yearning of her. I don’t know the reason why Kiran have never sent me messages again since one month ago. I always try to guess it, but I still get nothing.
15 minutes later.
I take off from public transportation in front of my campus. I walk down the street towards my class slowly. Just three minutes, I arrive in my class. Still empty. I wait in front of class. And then, anymore I must look something that reminds me of someone, Reza. I see a couple is chatting and joking. Romantic but disgusted. That view really reminds me of memories with Reza. He is my friend at the same time my love. An amazing moment, even though just for a moment we’re together.
My heart suddenly gets pain again. I’m yearning of Reza. I’m feeling lapse now.
My phone is ringing. It realizes me from my fantasy.
A SMS. From Vina. I read.
“Aya, where are you now?”
“In front of class. Where are you? Our class is still empty.”
“I’m home. I’m sorry. I have not given you information yet. Our lecturer will not come in. So, we are free today.”
I get surprise. Oh my God. I am sad. “Why am I here? It’s vain.” I’m grumbling. This is not a nice day I think.
“Never mind. Thank you. I’ll go home now.” I replied sadly.
Then I leave the class. I feel sad, I feel disappointed. I walk down towards gate of campus. But I don’t know where I want to go. I walk with dilly-dally step. It feels vacuous. “Ooh I need a friend. Kiran, Reza… I want you two. I wanna hold you two.” I talk to my self. “I want to cry… I feel alone. All by my self.”
I want to know Kiran’s condition. I want to go to Jakarta to meet Kiran. But I’m afraid of meeting with Reza there. I think, I can’t meet them both in a same time. I’m confused. What should I do?
I sit on the chair beside the campus gate. I bend my face. My phone rings. A number that gave me messages last night is calling. REZA. I’m shocked. I receive that calling.
Just for a while, there isn’t voice. Silent.
“Hallo…” I spook slowly.
“Hallo… Aya…”
That voice vibrates my heart directly. As a long time I didn’t hear this voice which make me comfortable.
“Aya… Why do you bend your face? You look so gloomy.”
“Why do you know Za??” I’m confused.
“I know, because I am here.” Suddenly a voice is heard beside me, a bit whisper in my ear. I turn away.
“Reza??!!” I’m shocked. I wake up directly.
He smiles nicely. I’m still silent, without a word. All of my bodies become stiff.
“Ay…?” He looks at me.
“Emh.. Yes. Why are you here?” I try to speak, although it’s so difficult.
“I want to take you to one place. Come on!” He pulls my hand and takes me into his motorcycle. I can’t refuse. I’m just quiet. I don’t know where he will take me to.
20 minutes later. We arrive in one place where we used to meet, a place which is full of memory.
For a moment, we’re just quiet.
“Why are you here Za? Does Kiran know that you’re here?” I tried to open conversation. But he’s just silent.
“Why do you just keep silent? Is Kiran fine, Za?” My voice tone sounds hard. But Reza’s still silent. He closes his eyes. I look at him. Then I remember again our memory. “This face that always exists in my marrow. And the memories with you always exist in my heart. Forever.” I say with myself.
And unconsciously, I remember again the moment when we’re together. Very beautiful. He is the one that can make me feel happy. I can’t find the precise words to show my feel with him. Too meaningful. I like this feeling very much, because it’s very pleased fall in love with my best friend.
I look into his face in a long time. I float off in my memory with him, with all of my feeling for him.
After a while, he opens his eyes. It realizes me from my fantasy.
“Za, answer my question! Does something happen with Kiran? You didn’t tell Kiran what happen to us last time, did you? Answer me! Don’t make me worried!” I am quite angry.
“Something happens with Kiran. And that is why I am here now.” He answered dismally.
“Tell me, what happen? Please!” I hold his arm.
“I will not tell you here. I want you know by yourself what happen to Kiran. I will take you to her.”
“So, why do you take me to this place, if you won’t tell me the truth here.”
“I just want you remember all of your feeling to me and our memory here. I don’t want you forget it, even just a little.” He glances me deeply. Then he takes me into his motorcycle.
A half an hour we arrive in front of a house. I know that house very well, because that house is one place where Reza, Kiran and I used to spend our time together. That is Kiran’s house. I have never come to this house for long time. As I know that this house was empty since one year ago Karin continued her study in Jakarta.
Reza invites me to come in to this house. I’m still confused, but my heart starts vibrating. Then we are towards a room. We enter the room. I see a woman sit on the wheel chair. I approach her. Then she turns away.
“Kiran???” I’m very shocked. I hug her directly. I can’t stop shedding tears, neither can she. Feeling of longing mixed to sorrow.
After a moment, we discharge our embrace. I look at her seriously. Reza and I help her to sit on the chair, and then we sit beside her.
“What happen to you?” I asked slowly. She looks different now. Her body becomes thinner and weaker. Her face is pale.
She doesn’t answer my question. She just smiles. I see that she is still beautiful.
“Kiran has suffered liver cancer since several years ago. But she has never told it to anyone. She used to show that she is healthy. And I knew about her sickness one month ago, when her condition was very drop. And doctor told me that she has suffered liver cancer in stadium 4. I was very sad because she hid her pain by herself.” Reza explained sadly.
I’m crying sob while Reza is explaining. I feel that it’s not real.
“I’m sad. Why didn’t you tell me about your pain?” I hold Kiran’s arm strongly.
Kiran smiles again. Then she speaks smoothly. “We are same Aya. Do you feel that you used to tell me anything in your life?”
“What do you mean?” I asked astonished.
“I know about you and Reza, Ay. Did you think that you can hide your feeling both from me, your close friend? No Ay.”
“I have never intended to lie. I just felt that I betrayed our amity by having feeling with Reza. And I thought that you have same feeling with me to Reza. So, I’m willing if I give Reza to you. And I decided to continue my study here, in Tasik, in order to avoid you two. I have never intended hiding all this from you, because I have forgotten all now.”
“hmm, one more time you are lie. I know that you two are still in love. Reza and I were just friend, same with you. I love Reza same as Reza love me, as a best friend, just it. But I let you do what you wanted to do last year. I received your heart kindness giving Reza to me, for I couldn’t be alone and I needed a friend to accompany me passing my days with my pain.”
I gaze her deeply. She looks so weak, but she stick try to looks strong, even though she is getting pain. My heart gets pain for I see my best friend like this. I have never imagined it can happen to Kiran, a spoiled girl. Why does it not happen to me? I’m willing if I must change her painfulness.
“Don’t gaze me like that Ay? I am not as painful as what you imagine. I am strong, even stronger than you which always look obstinate though brittle.” Kiran said softly.
“Why did you not share your pain with me and Reza, Ran?” I asked disappointed.
“I didn’t want to increase your burden, because you two were broken. I have been very thankful for you two, since you two never let me feel alone.” Kiran’s voice is slower than before. I can’t stop crying sob, and Reza can’t either.
“Do you two still remember about the meaning of our friendship?” I asked to them.
“Friendship is not about who knows earlier, not about who knows more and not about whom more often together. But friend is who comes and never goes.” Reza answered directly.
“Ay, Za, you two are lucky, because you fall in love with your best friend.”
“I’m lucky I’m in love with my best friend…” Reza and I are singing at the same time. Kiran smiles nicely. But my heart is sad. She looks such arrest her pain.
“Ay, don’t do what you did last year! A friend is someone who always remembers his friend in his pray. And that is what always Reza do. He always involved us two in his days. Although Reza has never met you for one year, you are always in his heart. And I know that you are same with Reza, Ay.”
“What did you say Kiran? Don’t talk anymore, you will be more painful.” I said.
“Keep silent Ran!” Reza said.
Kiran speaks little by little. “No, it’s time for me to go. I want to say what I want to say. I don’t intend to leave you two, but I can’t survive again. I’m happy, because I will go between you two.”
“I’m sad, why must we meet in situation like this.” I cursed.
“I hope you two will never be apart. I love you two.” Karin closes his eyes with saying God’s name. She breathes her last breath. She leans on Reza’s shoulder while she is holding my hand. Her face is so beaming. She has just gone peacefully.
I know, this is the way of God. He collects us in condition like this. My friend has gone, but I still have Reza, my best friend and my love.
I am very sad, and Reza is too. We have lost our best friend. But she will stay in our heart, now and forever after. Because friend is who comes and never goes.

CERPEN-When You Are Gone

 

After all this time together I never thought that you would leave me if you feel what I’m feeling right now?
and do you know what I want? I need you by my side I miss our times together may you never feel it
how sick and miserable I was when you left. I repeatedly read all messages from you to not feel the tears fall,
I cried remembering all the memories of you, I feel these days like in the hell is so hard to forget all the memories,
present you with a thousand promises and you go without giving one reason for sure you destroy all the promise, why did you do that? anything wrong me?
You Hurted Me At Extreme Level I was Silent,
You Broke My Heart I was Silent
You Ignored Me At Worst I was silent You Busy With Others And Didn’t Even Care For Me I Was Silent
Every time I Texts You But You Didn’t Replied I Was Silent But When You left me I Brusted into Tears … “Because You Hurts Me More Than I Deserve”
I have given all to you, trust, love, and even I had to leave all my friends just to maintain our relationship
to survive, but it’s all just in vain. you think of me as a game and when you get bored you go so wrote no matter what I’m feeling how sick,
and miserable when we are together. I will never give up and tired of love, I’m still waiting for you to come back to me someday.
I call your name in prayer and everywhere I go there’s only your name,
you can never replaced in my life you are a very special part of my life even though at this time I do not know where you are.
It hurts when someone i love so much doesn’t feel the same,It hurts even more when my heart’s breaking and i can’t cry,
One thing that haunts me every day and every night is your name, I’d say I’m happy for you, but you’d know it’s all a lie. I told myself I would never come in between you, I know your happy without me,
I can see it in your eyes, I can hear it in your voice, I wanted to be your Girl but I guess I was never your first choice. Looking at you, I wondered if I could’ve made you happy, Your smile, your laughter, your face and your voice is burned in my head, But then again I don’t think I could’ve ever made you happy, Sometimes thinking about you makes me want to die instead. I promised myself that I will continue loving you no matter what.
I also promised myself that I will never jeopardize your happiness, I cannot lie but my love for you will never part, I promise you I will be by your side if you’re ever in pain or sadness. This is my promise to you as a friend and as someone who loves you.
For all my friends :
When Someone walks away from you -
Let them Go (for sometime)
Sometimes ..
Hurt is needed to make us grow.
Failure is needed to make us know
Loss is needed to make us gain.
In life, we all have:
an UNSPEAKABLE secret
an IRREVERSIBLE regret
an UNREACHABLE dream
and an UNFORGETTABLE love
Remember!!
Some lessons are BEST learned
only through PAIN!!

CERPEN-Where Were You?

 

I was in junior high school. At the first time I came to my new school, I felt so happy. There were many friends. Time by time we’ve known each other and having friendship.
At the moment we have finished our lessons on grade 7 th, and so we’re grade 8 that day. There’s a new student in our classroom, he was a boy. Yeah a handsome boy!!. He’s really a cool boy but not clever very much. He was good on football.
Formerly I was a shy girl, really shy girl!. I just wanna talk with girl and no boy. But I was a clever student especially in English. I got the first ranking on first and second semester of grade 7 th in our school. I never thought about love before, it’s because I always tried to focus on the lesson very much. But now I felt that there’s something happened in my heart. There were many questions running up in my mind every time.
Everyday I looked at him, The new student!. I respected to him, time by time I felt that I fell in love with him. I thought about him before I went to sleep and every time. When I looked and met him, I always felt that my heart beat faster than usually. Yeah right! He is my first love. I never felt like that before. But I didn’t tell anyone about it included all of my friends. I thought they wouldn’t know that I loved a new student.
At one day, I and my friend talked seriously. She told me who boy that she loved and she asked me to do the same. We made an agreement so that do not told anyone about this, and okay! we’ll promise. Tomorrow, She was talking with other friend and revealed my love secret not intentionally. Firstly I was a bit angry but i tried to forgive her.
I didn’t know what happen. One of his friend always told me what Mr.Boy said. I thought he loved me too. He’s asking all around about me. He asked for my phone number, hair style, username of social media and the others about me. When hearing that, I fell so glad. He sent me messages. Firstly I tried not to reply her message but at last I replied his message. After that, we’re often message each other. We talked about everything and knew more each other. Yeah I’m really happy.
Long time have been already over with all memorable moment although without love word until one day at our classroom, when he went classroom out, he talked loudly “I didn’t love her”. But anyone didn’t know what means that he said. Only my close friend heard what he talked. But when he said that, i didn’t hear clearly. Then my friend told me about his saying. I fell be so shy and sad. He has given me love sign, but actually those’re only false. I hate him, i hate him very much! Arrgh!.. Fine, I tried hardly to forget him.
Long time already taken and now I didn’t love him again. We had my life usally without different and nothing special. But I fell alright, I enjoyed this moment with all of my friends. Suddenly when we’re on grade 9 th, a lot of pupil in our classroom were in tumult because one gossip especially me. Yeah! The gossip was talked about his feeling. His friend came back to said to everyone that he loved me. Haha! I just laughed and thought that was a false again. I didn’t care it much.
All of his doing in class always made our friends mocked me and him that we’re in love, I fell an usual. But one day, he sent messages to my close friend, he told the fact that the gossip it’s true not just like gossip. My friend told what he said to me, erm I still didn’t care it. At a moment we had a task to sing. All of us were waiting our turn. When my turn were coming, I go to forwad the class and sang a song that it was bore a meaning like my feeling now. Next! Next. And when his turn were coming, he sang a song like were expressing his feeling that he loved me. All of my friends cheered to me. Haha!.
That day, after I went home from school, I got an message and it was proved from him. Yeah I read it and the content he said he loved me. Aww aww, I just laughed alone. So I replied his message, I refused his love request. I thought it’s worth to him, to man who hurt the girl! Where were u past? And now you’re back, what did u want?. I’m sorry couldn’t be yours. But I would remember this story forever, it’s a memorable.

CERPEN-Love In Boston



Aku dilanda sebuah rasa yang hadirnya karena cinta, rasa yang hampir menyerap seluruh sumber air di mataku. Namanya Rindu. Ketika aku tak bisa memilih kepada siapa aku harus merindu, dan kapan waktunya aku akan berhenti mengecap rasa itu.
Kakiku terus berlari meski pijakannya mulai merapuh hingga tak sekuat kemarin. Sebagai seorang atletik aku dituntut untuk selalu berkembang di setiap kompetisi, namun sekarang aku tak lagi berambisi sebagai juara, aku hanya lari karena aku ingin melakukannya.
Boston, senin 15 April 2013
Dimulai sebuah perayaan tahunan Boston Marathon di Ibukota Massachusets, As. Kami bak sepasang burung yang terbang bebas memecah malam, bersama menghitung bintang-bintang hingga sayap kami tak mampu lagi terbentang. Dan hari ini kami sepasang kijang yang akan berlari di atas tanah yang sama. Aku ingin menghadiahkan trofi boston marathon untuk gadis bernama kinaya itu. Aku ingin bilang padanya. Terima kasih atas lima tahun yang telah kau berikan, kinaya.
Sebelum meninggalkan garis start aku sempat mencium keningnya. semalam kami juga sempat melakukan perayaan kecil. kami melepaskan ratusan balon berbentuk hati ke udara… ’Kay, aku akan pergi ketika aku merasa sangat bahagia’. Desah kinaya malam itu, aku pikir hanya lelucon, gadis itu memang tak pandai membuat lelucon. Namun, kalimat sederhana itu malah membuatku terjaga dari tidurku semalam.
Jika aku tahu siang itu menjadi detik terakhirnya, akan kuhentikan waktu agar siang tak cepat berlalu. Bom Boston telah merenggut separuh hidupku. Dia sekarat sedangkan aku hanya bisa berharap hari ini adalah sisa mimpi buruk dari tidurku semalam, namun jika mimpi, kenapa terasa seperih ini…?. Tubuhnya dipenuhi darah yang terus mengucur hampir di seluruh organ tubuhnya hingga wanita itu melepaskan nafas terakhirnya.
Jakarta, kamis 30 mei 2013
“kay, kinaya pasti bangga atas kemenangan loe hari ini” ujar salah seorang kawan sekaligus rivalku dalam kompetisi kali ini. Namun, aku tak lagi menemukan kebanggaan dalam kemenanganku, yang aku tahu, airmata ini tak terbendung lagi ketika langkahku berhasil menyentuh garis finish. Dari 27 ribu orang kenapa harus gadis itu…?. mungkin Tuhan juga sudah mulai jenuh mendengar pertanyaan yang tak ada bedanya.
“kamu yakin yas ini pilihan terbaikmu?” tanya ibu dengan wajah sendu melepas kepergianku
“kalau kay ingin sembuh kay harus pergi ke tempat di mana kay hancur, bu” kataku memberikan pengertian.
“kalau itu mau kamu, pergilah dan kembali jadi kayaza yang kuat”
“maaf bu…” desahku sambil menjatuhkan tubuhku ke dalam pelukannya.
“jangan meminta maaf, yas. karena cinta tak pernah salah” jawab wanita separuh baya itu seraya membalas pelukanku.
Boston, senin 3 juni 2013
Aku telah kembali ke tempat di mana kau telah membawa sebagian nafasku, kinaya, memulai hidup baru dengan bayangmu. Jika aku tak diijinkan memiliki ragamu maka ijinkanlah aku memiliki bayangmu.
Pagi ini Boston masih terasa sendu. Aku berjalan menyelusuri tepian kota itu. Mengulang kembali rekaman yang terpasang di otakku, sebuah memori yang tak akan pernah terhapus dari benakku. Puluhan orang terluka, ribuan mata berduka, jutaan cinta tertunda.
Boston, rabu 5 juni 2013
Hari pertama memulai status sebagai mahasiswa di Boston University. aku tak ingin lagi berlari, karena sesuatu yang kukejar sudah pergi terlalu jauh. Aku hanya akan hidup dengan normal, makan dengan baik dan tidur dengan nyenyak hingga aku kembali hidup, bukan sekedar hidup, tapi benar-benar hidup.
Aku tetap berjalan meskipun dikejar deadline. Aku hanya ingin hidup dengan sederhana, ketika semua orang berlari mendahuluiku aku akan tetap berjalan.
DUAGGG…!!
“Aww…” Pekik seorang gadis bermata coklat setelah menabrak trotoar dengan scooternya
“are you okay…?” tanyaku membantunya berdiri.
“yeahh, I’m okay” jawabnya meski mimiknya tak baik-baik saja.
Apes banget gue pagi ini. Gerutu gadis itu dengan bahasa indonesia yang fasih.
“gue juga apes pagi ini” ujarku sambil berjalan membelakanginya.
“hei… setelah lima tahun gue nunggu di sini, loe orang itu” ungkapnya entah ditujukan pada siapa.
“hi, aku Miley…” lanjutnya menjadi seribu kali lebih bersemangat.
“oohh, aku kay…” kataku meneruskan langkah yang sempat tertunda.
“kay, gue ralat… ternyata, ini hari terbaik gue” pekiknya terdengar sedikit berlebihan untuk seseorang yang baru dikenalnya
Usai kelas berakhir aku bergegas untuk menemui seorang teman berkewarganegaraan Spain. Aku sengaja mempercepat langkahku setelah sadar ada seseorang yang membuntutiku sejak dari kelas tadi.
“hei you…” pekikku membalikan tubuh secara tiba-tiba. Seorang gadis di belakangku belum sempat menyembunyikan wajahnya ketika aku terlanjur famiiliar dengan wajah yang tak asing itu.
“heehe, gue kangen,” katanya dengan wajah memerah.
“sama gue?” celetukku spontan
“not you, but indonesia… sayang gue nggak punya wajah indonesia”
“nasionalisme itu bukan tentang wajah, tapi tentang darah” ujarku tanpa ekspresi.
“hei kay, mil…” sapa seseorang dengan rambut pirang dan tubuh jangkung.
“jake..?, kalian saling kenal”
“sorry gue buru-buru jake, bye” pamitku pada orang Boston itu sambil berjalan menjauhinya.
“Jake..?” ulang miley masih penasaran.
“okay.. we are best friend” ujar jake langsung mengerti isyarat yang diberikan miley.
“selalu ada jalan menuju Roma” kata miley dengan ide-ide ajaib di kepalanya.
Boston, minggu 1 september 2013
Kinaya ke mana aku harus pergi ketika aku mulai merindukanmu dan kepada siapa aku harus tersenyum ketika aku bahagia nanti. Like today, aku benar-benar terbebas dari jeratan mata kuliah yang menjenuhkan. Dari lantai empat lima apartemen aku siap menembus keterbatasan yang menghambat langkahku. Di area copley square aku menggunakan waktu senggangku untuk tidur siang sebelum suara bising sekelompok anak mengganggu tidurku.
“Wee…move..!!, dont disturb my freeday, just leave from here” kataku mengusir sekerumunan anak boston itu.
“whats wrong…?” tanyaku pada seorang anak yang masih tak bergeming.
“hem, nothing”
“Anak aneh…” celetukku berbahasa.
“makasih kak” timpalnya membuatku tertegun dengan kalimat bahasa indonesianya.
“Heii… mau jadi tour guide gue?,” pintaku padanya. Raut wajah anak itu tampak hambar tak berselera. Namun dugaanku meleset, dia ahlinya tersenyum,
“sepakat” ujarnya mengejutkanku.
Siang ini dimulai dari beberapa tempat bersejarah di Boston. Anak itu tampak fasih menjelaskan seluk beluk boston. Ia tak kelihatan seperti orang indonesia, wajahnya pun melebur seperti penduduk asli boston, hanya warna bola matanya saja yang menunjukan kebanyakan orang timur. Sambil menikmati hot dog aku masih penasaran apa yang membuat anak itu harus berjalan dengan kaki kayu hingga tanpa sadar aku terus mengusiknya.
“hemm… mereka ngejek aku karena kaki kayu ini, kak” tuturnya tiba-tiba membuatku tak enak hati.” bom boston lima bulan yang lalu, maybe God loves me, makanya aku berbeda” kali ini giliran aku yang tertegun, sekejab wajah kinaya kembali memenuhi pikiranku.
“mimpi kamu..?”
“aku dikeluarkan dari sekolah atletikku, kak. Mereka bilang, mana ada atlet lari dengan kaki kayu”
“Kamu mau lari lagi..?”
“satu kaki pun aku masih bisa berlari, karena berhenti bermimpi itu bukan pilihan, iya kan kak..?”
kalimat terakhirnya hampir membuatku tersedak. Aku tak mengerti anak usia lima belas dapat memandang sisi hidupnya dari arah yang baik. Tuhan mengirimkan anak itu tepat waktu. Aku mulai menyukainya, dan dimulai dari sore itu kami sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar makan hot dog pinggir jalan atau berbagi cerita bersama, termasuk tentang kinaya dan mimpiku yang tertunda.
“will… aku janji, walaupun bukan hari ini, aku pasti akan lari”
“harus, aku mau lihat kakak di arena yang sesungguhnya, promise..?”
“I promise, will..” janjiku tak berniat mengecewakannya.
Boston, selasa 1 oktober 2013
Hari ini tanpa will, aku sedang menghitung langkahku di trotoar sekaligus menghitung hari-hari yang kulewati tanpa kinaya. Lama-lama bayangnya mulai kabur, aku pun tak sering lagi menjumpainya di alam mimpiku. Mungkin lukaku mulai mengering, meski tak kan bisa hilang bekasnya. Sampai pada langkah ke sembilan puluh sembilan sebuah bayangan meneduhkan langkah ke seratusku. Sudah beberapa bulan aku mulai terbiasa dengan sikap kekanak-kanakannya. Tetapi kali ini wajah pengganggunya seperti ia sembunyikan sementara mata coklatnya semakin dalam menatapku.
“kay, ayo kita lari berdua..!!”
“seharusnya kamu meminta yang lain, mil. karena aku nggak akan bisa mengabulkan permintaan yang satu itu”
“nggak adil..!!, kenapa seseorang yang sangat ingin berlari dia ngga memiliki kesempatan, sedangkan seseorang yang memiliki kesempatan dia malah berhenti berlari”
“loe lagi marahin gue..?” tanyaku tak mengerti.
“hemm, ini salah gue..” ujarnya pergi dengan mata lembab. Kali ini bukan dia yang mengejarku, tapi aku yang tak mengijinkannya pergi.
“hei.. mau cerita..?” kataku menarik lengannya untuk duduk di sampingku. Suasana canggung sejenak, belum ada yang mulai bicara hanya ada suara beberapa burung di atas pohon yang kami jadikan tempat berteduh.
“ada berjuta juta orang yang menginginkan kaki sepertimu, kay. Tapi, kenapa loe malah berhenti bermimpi?”
“nggak semua pertanyaan harus ada jawabannya, mil..” ujarku padanya. Miley tak bereaksi. Hanya ada derungan kendaraan yang melalu lalang di jalanan. Miley menghapus airmatanya, lalu berlari meninggalkanku. Lampu penyeberangan belum menunjukan jalan, tetapi miley melenggang saja memotong jalan yang siang itu tampak padat. Suara decitan rem dan klakson mulai saling menyaut, situasinya semrawut dan untuk pertama kalinya ada orang yang membuatku harus berlari mengejarnya setelah kinaya.
“kamu lari kay…”
“bodoh… kenapa lo selalu bikin gue marah?” kataku setelah berlarian menggandengnya ke tepian jalan.
“kay, bisakah aku menjadi alasanmu”
“maaf mil, sesuatu yang aku kejar udah sampai finishnya”
“apa cinta juga nggak bisa jadi alasan..?”
“gue takut memiliki karena gue nggak mau kehilangan lagi mil”
“aku berharap bertemu kamu sebelum kinaya” katanya membuatku hampir tersentuh. Tatapan itu membuatku seolah menjadi orang yang paling kejam. Membuat seorang wanita menangis sama saja aku ini pengecut.
“kalau memang nggak bisa, aku akan berhenti kay sebelum aku terlalu jauh” katanya seperti orang yang putus asa. Kepergiannya malam itu seperti tak akan kembali lagi.. tapi bukankah itu yang aku inginkan…?, kenapa aku jadi tak konsisten semenjak pertemuanku dengannya.
Waktu semakin bergulir, hanya sesekali aku melihat miley lewat di depanku. Tatapannya asing. Ia benar-benar menepati ucapannya. Tapi kenapa di saat ia memutuskan untuk berhenti aku malah baru memulai gejolak di hatiku. Aku takut ketika harus memulai kembali, takut bertemu dengan rasa yang sama seperti rasa yang telah kau tinggalkan, kinaya.
“whats u up, man” tegur jake mengagetkanku.
“dari mana loe, jake?”
“Airport… miley kan hari ini terbang ke timur tengah”
“apa..?” ungkapku terkejut “dia benar-benar berhenti” desahku sembari mengambil langkah yang seharusnya sudah aku lakukan jauh hari.
Waktuku tinggal sepuluh menit lagi sebelum udara membawanya pergi dan mungkin tak kan kembali. Aku berlari… ya mungkin itu yang sedang aku lakukan karena aku bahkan lupa bagaimana rasanya berlari.
Bola mataku mengitari setiap sudut bandara, hingga suara langkah kaki yang sangat khas di telingaku semakin terdengar menonjol.
“will..?” kataku sambil mengatur nafas yang terengah engah sementara mulutku ternganga melihat tour guide kecil itu berdiri di hadapanku, di samping bocah itu seorang wanita mendongak tak kalah terkejutnya denganku,
“kay…” desahnya sambil mendikte kaki hingga ujung kepalaku. Kini aku mulai mengerti mengapa miley ingin melihatku menjadi kijang di tengah arena.
“berhenti berlari itu bukan pilihan, iya kan will?” kataku mengulangi ucapan wiley tempo hari.
“Iya, kak. Secepat kijang yang tak terkalahkan”
Boston, 15 april 2014
Aku menggenggam erat telapak tangannya yang lembut. Hari itu wiley berperan sebagai pemandu sorak kami, aku dan miley dalam perayaan Boston Marathon. Miley membuatku memiliki alasan untuk berlari. Dan aku tak harus takut kehilangannya, karena aku tak kan membiarkan cinta pergi untuk kedua kalinya, kalaupun pergi ia harus kembali. Cinta dan impian membuatku hidup, benar-benar hidup. Aku tak kan berhenti berlari sebelum aku benar-benar tak sanggup lagi berdiri. Berlari mengejar asa, tanpa takut akan terjatuh lagi, karena ada cinta yang akan membantuku bangkit ketika aku terjatuh nanti.
Kinaya maafkan aku telah memilih cinta yang lain. Percayalah ketika aku bahagia nanti aku akan tersenyum padamu karena kau pernah menjadi bagian dari kebahagiaan itu.
“miley, will you marry me?” ungkapku tanpa ragu ketika kaki kami berdiri di atas garis finish, garis yang pernah melenyapkan selera hidupku. Kini di atas garis itu pula Tuhan kirimkan cinta untuk mengganti miliaran airmata yang telah terjatuh dari kelopak mataku. Karena setiap satu butir airmata yang kita jatuhkan ada rahasia Tuhan yang tak satupun malaikat tahu.